Reporter: Sandy Baskoro, Yuwono Triatmodjo | Editor: Sandy Baskoro

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Selasa 13 Oktober 2020 lalu menjadi hari yang membahagiakan bagi Nadia Alatas, pendiri PT Cybertrend Intrabuana. Alumnus Fakultas Ilmu Komputer (Computer Science) Universitas Indonesia tahun 1995 ini meraih penghargaan di ajang Women in ICT Awards (WIICTA) yang diselenggarakan Channel Asia.

WIICTA merupakan ajang penghargaan bagi tokoh wanita berpengaruh se-Asia Tenggara pada bidang teknologi. Ajang WIICTA menampilkan potensi wanita di Asia Tenggara, mulai dari pemimpin korporasi maupun talenta muda, para pakar, pemikir inovatif, hingga mereka yang memiliki komitmen tinggi bagi industri.

Tidak kurang 150 nominator bertarung untuk memperebutkan lima katagori penghargaan yang terdiri dari Bintang Baru; Bintang yang bersinar; Inovasi; Teknis; Komunitas dan Prestasi.

Sebanyak 50 dewan juri yang berasal dari kalangan profesional memilih para pemenang berdasarkan kreativitas, inovasi dan keunggulan (excellence).

Baca Juga: Cybertrend Menjajaki Peluang Masuknya Investor Penyuntik Dana

Nadia Alatas menjadi wakil dari Indonesia yang menyabet penghargaan WIICTA untuk kategori inovasi. Mengutip Channelasia.tech, juara kategori ini dipilih berdasarkan kemampuan yang menonjol dalam menyampaikan gambaran besar (big picture) terkait ide dan visi di industrinya.

Selain itu, pemenang yang terpilih dipandang bisa menyikapi perubahan lingkungan, untuk kemudian menemukan peluang bisnis yang unik dan menarik. Kepemimpinan Nadia di bidang ilmu data di Indonesia telah terbukti lewat kiprah Cybertrend.

Cybertrend membantu menerapkan solusi ilmu data untuk bisnis di berbagai industri. Lewat tangan dinginnya di Cybertrend, Nadia membuat dua produk teknologi inovatif, yaitu CtrendVision dan CtrendMax.

Kedua produk ini memanfaatkan artificial intelligence (AI), machine learning, automation dan advanced analytics untuk menghasilkan visualisasi data yang akurat serta optimalisasi proses bisnis.

Berikut ini sedikit gambaran mengenai dua produk teknologi inovatif Cybertrend tersebut. Pertama adalah CtrendVision, yang merupakan platform visualisasi analitik yang dibangun berdasarkan model data yang kuat, visualisasi dan data analisis bisnis tingkat lanjut bagi klien.

Semisal bagi pebisnis ritel, CtrendVision mengoptimalkan analisis tentang penjualan dan distribusi. Bisnis ritel memiliki data penting lantaran kegiatan transaksi memiliki informasi mengenai perilaku dan tindakan konsumen. Ini hanya sebagian kecil dari informasi yang bisa dioleh oleh CtrendVision untuk memaksimalkan penjualan dan mengefisiensikan pekerjaan klien.

Baca Juga: Strategi berbasis data topang perusahaan bertahan dan bertumbuh di era new normal

Produk kedua adalah CtrendMax. CtrendMax merupakan platform analisis berbasis pembelajaran (learning-based analytic platform), yang dibangun berdasarkan perilaku data pembelajaran untuk mengoptimalkan aktivitas bisnis. Dua hal yang menjadi sasaran platform ini adalah mengoptimalkan penjualan dan optimalisasi pengiriman (distribusi).

Salah satu model operasi CtrendMax adalah platform ini memiliki perhitungan lengkap berdasarkan pembelajaran dan pemodelan (learning and modeling), mulai dari penempatan order pada kendaraan pengangkut, biaya, rute, waktu pengiriman hingga hasil akhir rantai distribusi ini.

“Industri yang melibatkan supply chain dengan pergerakan yang cepat, fast moving consumer goods dan ritel, pasti terbantu dengan produk ini,” ungkap Nadia kepada KONTAN, Rabu (28/10) pekan lalu.

Manfaatnya, lanjut Nadia, berupa optimalisasi peningkatan produktivitas, efisiensi biaya operasional, optimalisasi pendayagunaan SDM serta ramah lingkungan lantaran sangat memperhitungkan konsumsi bahan bakar.