Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Butuh Lebih Banyak Talenta di Bidang Teknologi

JAKARTA – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia telah mengakselerasi kehadiran teknologi digital dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Seiring dengan itu, kebutuhan talenta di bidang teknologi, khususnya data science dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian mendesak untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Laporan The Future Job of Report 2020 oleh World Economic Forum (WEF) menemukan terjadinya adopsi teknologi oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Hal ini dinilai perlu menjadi perhatian kalangan perguruan tinggi serta para pemangku kepentingan lainnya.

“Ini mengindikasikan tentang mendesaknya kebutuhan pekerja antara lain di bidang data science dan analytics, artificial intelligence dan machine learning specialist, big data analytics, internet of thing (IoT) specialist, serta digital marketing specialist,” ungkap Nadia Alatas, pemenang Women in ICT-Channel Asia Award 2020, dalam keterangan pers, Rabu (14/7/2021).

Baca Juga: Pembuktian Ide Anak Muda dalam Dunia Bisnis Berbasis Teknologi
Sejalan dengan dengan itu, kata dia, laporan Bank Dunia yang berjudul “Prospek Ekonomi Indonesia: Mempercepat Pemulihan” yang dirilis pada Juni 2021 juga menyoroti tentang masih minimnya lapangan kerja yang layak dan berkualitas untuk mendorong pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Indonesia. Dari sisi permintaan, sambung dia, ada ketidakselarasan (mismatch) antara kapasitas angkatan kerja berpendidikan tinggi dengan kebutuhan industri. “Gelar diploma atau sarjana tidak lagi menjadi jaminan, jika tidak mampu mengikuti cepatnya dinamika industri,” imbuhnya.

Laporan ini merekomendasikan strategi reformasi untuk mengatasi tantangan terkait pekerjaan antara lain, melengkapi tenaga kerja Indonesia untuk memiliki pekerjaan kelas menengah dengan berinvestasi dalam membangun sistem pembelajaran dan pelatihan serta berbagai program untuk meningkatkan keterampilan pekerja. Laporan tersebut juga mendorong lebih banyak perempuan ambil bagian dalam angkatan kerja dan mengurangi kesenjangan pendapatan antara laki-laki dan perempuan.

Nadia, yang juga menjadi finalis pada Women in ICT – Channel Asia Award 2021 yang sedang berlangsung, menekankan perlunya lulusan perguruan tinggi bahkan karyawan perusahaan melakukan up-skilling dan re-skilling agar cepat beradaptasi dengan kebutuhan pasar industri yang mengadopsi teknologi mutakhir.

Sebab, kata dia, masih ada kesenjangan yang lebar antara kebutuhan industri atas talenta bidang data science & AI dengan ketersedian yang disiapkan oleh dunia pendidikan. Perguruan tinggi mempunyai tantangan guna menyusun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Data Academy menyiapkan training, sertifikasi, standardisasi, serta mendampingi perguruan tinggi dalam menyusun kurikulum dan riset data science & AI. Sekaligus menyediakan program magang dan perekrutan. Semua itu dalam rangka mendekatkan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri,” kata founder Data Academy tersebut.

Kebutuhan talenta Data Science & AI ternyata juga bukan sekadar dibutuhkan oleh perusahan digital, tapi sudah makin merata ke semua perusahaan bahkan organisasi pemerintahan dan layanan publik. Otomatisasi kini telah menjadi pilihan perusahaan agar lebih efisien dan kompetitif serta terus berkembang.

Perusahaan yang bergerak di sektor non teknologi seperti tambang, kesehatan, asuransi bahkan pemerintahan dan layanan publik juga tak ketinggalan ikut mengadopsi teknologi mutakhir termasuk Data Science & AI serta internet of thing).

General Manager internet of thing Business Operation dan Analytics Telkomsel Rio Novrianti mengatakan, perpaduan Data Science & AI dengan IoT akan memperkuat berjalannya otomatisasi dan analytics. “Bahkan jauh sebelum pandemi, kami dari Telkomsel sudah banyak menyiapkan teknologi IoT bagi banyak perusahaan,” tuturnya.

Terkait dengan itu, Nadia yang juga founder Cybertrend mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya masih merasakan bahwa potensi pertumbuhan talenta di bidang teknologi, baik secara kualitas maupun kuantitas, sangat tinggi. “Hal inilah yang mendorong kami untuk mendirikan Data Academy dengan berkerja sama dengan perguruan tinggi agar mempercepat ketersedian talenta data science & AI dari dalam negeri,” ujar Nadia.

Sumber : sindonews.com